Dr. Arissetyanto Nugroho: Teknologi Smart Phone dan Gaya Hidup Generasi Milenial Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital secara Masif

WARTAKAMPUS.COM: JAKARTA - Ekonomi digital memang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dewasa ini. Berbagai macam produk bisa kita peroleh melalui pemesanan secara on line, mulai dari buku, barang-barang konsumsi, furnitur, komputer, obat, tiket pesawat, jasa angkutan barang, bahkan sampai jasa desain kartu nama dan logo perusahaan.

"Adalah persepsi yang salah apabila mengasosiasikan ekonomi digital hanya dengan perangkat teknologi informasi dan melupakan sisi fisiknya. Ekonomi digital memang mengubah secara drastis model bisnis, terutama yang menyangkut model pertemuan di antara penjual dan pembeli, model promosi, model pembayaran, model penangkapan, dan pengolahan informasi pelanggannya, namun kita tidak boleh lupa bahwa sesungguhnya kegiatan produksi, transportasi, penyimpanan, dan reparasi barang akan tetap berlangsung secara fisik, walaupun akan ada berbagai perubahan karena perkembangan teknologi produksi dan transportasi,"ungkap Dr. Arissetyanto Nugroho, MM, di hadapan 450 orang peserta Stadium General, Peran Profesional Supply Chain Logistic dengan tema "Tantangan dan Peluang Peningkatan Daya Saing," yang dilaksanakan di Universitas Mercu Buana, Sabtu 2 Desember 2017.

Nilai transaksi perdagangan on line ini akan terus meningkat pesat di masa mendatang. Perkembangan teknologi smart phone serta gaya hidup generasi milenial mendorong pertumbuhan ekonomi digital secara masif. Indonesia adalah salah satu negara yang pertumbuhan bisnis digitalnya sangat tinggi. Transaksi e-bussiness Indonesia pada 2017 mencapai Rp 65 triliun-Rp 70 triliun. Studi yang dilakukan Nomura Research juga  menyebutkan bahwa nilai transaksi e-bussiness di Indonesia mencapai sekitar 1,2 persen dari nilai transaksi ritel secara keseluruhan di 2017.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) Indonesia, kontribusi e-bussiness memang belum mencapai 1 persen. Namun, angka ini akan naik dengan cepat dan diperkirakan menjadi sekitar Rp 2.000 triliun pada 2025. Secara matematis ini mencerminkan pertumbuhan per tahun rata-rata di atas 40 persen, jauh di atas pertumbuhan PDB yang moderatnya di sekitar 5 persen per tahun.

"Jika prediksi tingkat pertumbuhan tersebut mendekati kenyataan, kontribusi e-bussiness terhadap PDB pada 2025 akan mencapai 10 persen. Sebuah angka yang cukup fantastis, yang mengharuskan kita, untuk menyiapkan ruang yang memadai agar bangsa Indonesia bisa berperan dan menikmati angka ini: bukan hanya sebagai pasar, melainkan juga sebagai penghasil produk-produk yang dipasarkan melalui e-bussiness." Jelas Rektor Universitas Mercu Buana, yang akrab dipanggil Dr. Aris ini. 

Lebih lanjut Dr. Aris mengungkapkan, "Perkembangan e-bussiness saat ini mengakibatkan peningkatan kebutuhan logistik lebih dari 30 persen. Dimana 50% adalah dari perdagangan online dari 70% kebutuhan jasa logistik non corporate. Tantangan bidang Supply Chain Logistics adalah: peningkatan kapasitas, peningkatan kualitas, efisiensi operasional membutuhkan banyak tenaga profesional di bidang Supply Chain Logistics."

Hadir pada Studium General ini, Prof. Ir. I Nyoman Pujawan. M.Eng, Ph.D. Direktur Institut Supply Chain dan Logistik Indonesia (ISLI) Institut Teknologi 10 November (ITS),  Prof. Dr. Ir. Marimin. Msc. Guru Besar System Enginering Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Nofrisel, SE., MM. Ketua Dewan Pakar ALI (Asosiasi Logistik Indonesia).